A. Pendahuluan
Perencanaan penilaian
proses serta hasil
belajar dan pembelajaran
tidak dapat dilepaskan
dari perencanaan pembelajaran
itu sendiri. Penyusunan
rencana penilaian merupakan rangkaian program pendidikan dan
pembelajaran yang utuh dan merupakan
satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lainnya. Rencana penilaian
disusun agar menjadi
referensi guru dalam
menyelenggarakan penilaian keseluruhan proses pembelajaran. Di
dalam merencanakan penilaian
pembelajaran perlu dipahami guru
bahwa pembelajaran yang mendidik mengandung dua kata kunci yakni,
pembelajaran dan mendidik. Kata
pembelajaran memiliki konotasi
aktif karena peserta
didik secara aktif melakukan
kegiatan belajar dalam
situasi pembelajaran yang
dirancang oleh guru, sedangkan
kata mendidik mengandung
konotasi proses menjadi
(becoming) seorang peserta
didik secara komprehensif, baik secara pedagogi (akademik) maupun secara personal
(kepribadian), profesional
(vokasional), dan secara sosial
(kewarganegaraan).
Hasil penilaian
pembelajaran adalah hasil
analisis sejumlah fakta
tentang performance (unjuk kerja) peserta didik dalam proses penguasaan
kompetensi yang diharapkan.
Fakta-fakta yang dikumpulkan,
diolah, dianalisis, diinterpretasi, dan
disimpulkan merupakan
jabaran kompetensi yang
diharapkan (kompetensi dasar minimal) ke dalam sejumlah
sub-kompetensi beserta sejumlah indikator dan deskriptor tertentu.
Pengumpulan fakta atau bukti kinerja peserta didik menggunakan instrumen yang
disusun berdasarkan indikator
pencapaian kompetensi.
B. Tujuan
Asesmen
Chittenden
(1994) mengemukakan tujuan penilaian (assessment
purpose) adalah “keeping track,
checking-up, finding-out, and summing-up”.
1. Keeping track, yaitu
untuk menelusuri dan
melacak proses belajar
peserta didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Untuk itu, guru harus
mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu
melalui berbagai jenis
dan teknik penilaian
untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar
peserta didik.
2. Checking-up,
yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses
pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti proses
pembelajaran. Dengan kata
lain, guru perlu
melakukan penilaian untuk
mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai peserta didik dan bagian mana dari materi
yang belum dikuasai.
3. Finding-out,
yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kekurangan kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam
proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan cepat mencari alternatif
solusinya.
4. Summing-up,
yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi
yang telah ditetapkan.
Hasil penyimpulan ini
dapat digunakan guru untuk
menyusun laporan kemajuan
belajar ke berbagai pihak yang berkepentingan.
Adapun tujuan penilaian
hasil belajar adalah :
1. Untuk
mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah
diberikan.
2. Untuk mengetahui
kecakapan, motivasi, bakat,
minat, dan sikap
peserta didik terhadap program pembelajaran.
3. Untuk mengetahui
tingkat kemajuan dan
kesesuaian hasil belajar
peserta didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah
ditetapkan.
4. Untuk mendiagnosis keunggulan dan
kelemahan peserta didik
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keunggulan peserta didik dapat
dijadikan dasar bagi guru
untuk memberikan pembinaan
dan pengembangan lebih lanjut, sedangkan kelemahannya dapat
dijadikan acuan untuk memberikan bantuan atau bimbingan.
5. Untuk seleksi,
yaitu memilih dan
menentukan peserta didik
yang sesuai dengan jenis
pendidikan tertentu.
6. Untuk menentukan kenaikan kelas.
7. Untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
Secara rinci
tujuan asesmen berbasis kelas dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Pendidik dapat
mengetahui seberapa jauh
siswa dapat mencapai
tingkat pencapai kompetensi yang
dipersyaratkan, baik selama mengikuti
pembelajaran dan setelah
proses pembelajaran berlangsung.
2. Pendidik
juga dapat secara langsung memberikan umpan balik kepada peserta didik,
sehingga tidak pelu lagi menunda atau menunggu ulangan semester untuk bisa mengetahui kekuatan dan
kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
3. Pendidik
dapat melakukan pemantauan kemajuan
belajar yang dicapai
setiap peserta didik, sekaligus Anda dapat mendiagnosis
kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga secara tepat dapat menentukan siswa mana yang perlu pengayaan dan siswa yang
perlu pembelajaran remedial
untuk mencapai kompetensi
yang dipersyaratkan.
4. Hasil
pemantauan kemajuan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terus menerus
tersebut juga akan dapat dipakai sebagai umpan balik untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan
sumber belajar yang digunakan, sesuai dengan kebutuhan materi dan juga
kebutuhan siswa.
5. Hasil
dari asesmen dapat pula memberikan
informasi kepada orang tua dan komite
sekolah tentang efektivitas
pendidikan, tidak perlu
menunggu akhir semester atau
akhir tahun. Komunikasi
antara pendidik, orang
tua dan komite harus dijalin dan dilakukan terus
menerus sesuai kebutuhan
C. Fungsi
Asesmen
Asesmen atau penilaian merupakan bagian
penting dalam dari suatu proses
belajar mengajar. Fungsi
penilaian diantara:
1. Fungsi formatif,
yaitu untuk memberikan
umpan balik (feedback) kepada
guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan
mengadakan program remedial bagi peserta
didik.
2. Fungsi sumatif,
yaitu untuk menentukan
nilai (angka) kemajuan/hasil belajar
peserta didik dalam
mata pelajaran tertentu,
sebagai bahan untuk
memberikan laporan kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas
dan penentuan lulus-tidaknya peserta
didik.
3. Penilaian
berfungsi sebagai Diagnostik
Alat
yang digunakan dalam penilaian maka hasilnya dapat mengetahui kelemahan peserta
didik. Jadi dengan mengadakan penilaian sebenarnya guru melakukan diagnosis
kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan mengetahui
kelemahan-kelemahan yang ada maka akan mudah mencari cara untuk mengatasinya
4. Penilaian
berfungsi sebagai Penempatan
Untuk
dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan,
digunakan suatu penilaian. Sekolompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang
sama, akan berada dalam kelompok yang sama belajarnya.
5. Penilaian
berfungsi sebagai Pengukur Keberhasilan
Penilaian dilakukan dengan maksud untuk
mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
Sementara
itu, pada asesmen berbasis kelas, fungsi penilaian diantara:
1. Fungsi
Motivasi, dalam arti, penilaian yang dilakukan guru di kelas harus mendorong
motivasi siswa untuk belajar.
Latihan, tugas, dan
ulangan yang diberikan oleh guru
harus memungkinkan siswa melakukan
proses pembelajaan baik secara
individu maupun kelompok.
Bentuk tugas, latihan dan
ulangan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga
siswa terdorong untuk terus
belajar dan merasakan kegiatan itu menyenangkan dan menjadi kebutuhannya. Dengan
mengerjakan latihan, tugas,
dan ulangan yang diberikan, siswa
sendiri memperoleh gambaran
tentang hal-hal apa
yang telah dia kuasai
dan belum kuasai.
Jika siswa merasa
ada hal-hal yang belum dia kuasai, ia terdorong untuk
mempelajarinya kembali.
2. Fungsi
Belajar Tuntas, dimana penilaian di kelas harus diarahkan untuk memantau
ketuntasan belajar siswa. Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh guru
adalah apakah siswa
sudah menguasai kemampuan yang diarahkan, siapa dari siswa
yang belum menguasai kemampuan tetentu, dan tindakan apa yang harus dilakukan agar
siswa mampu menguasai kemampuan tersebut.
Ketuntasan belajar harus menjadi
fokus dalam perancangan materi yang harus dicakup setiap kali guru
melakukan penilaian. Jika suatu kemampuan belum dikuasai siswa, penilaian harus
terus dilakukan untuk mengetahi apakah semua atau sebagian besar siswa telah
menguasai kemampuan tersebut. Rencana penilaian harus harus disusun dengan
target kemampuan yang harus
dikuasai siswa pada
setiap semester dan kelas sesuai dengan daftar kemapuan yang telah
ditetapkan.
3. Fungsi Sebagai
Indikator Efektivitas Pengajaran, disamping
untuk memantau kemajuan belajar
siswa, penilaian kelas
juga dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh proses
belajar mengajar telah berhasil. Apabila sebagian besar
atau semua siswa
telah menguasai sebagian
besar atau semua kemampuan
yang diajarkan, maka
dapat disimpulkan bahwa
proses belajar mengajar telah
berhasil sesuai dengan
rencana. Apabila guru menemukan
bahwa hanya seagian
siswa saja yang
menguasai keampuan yang
ditargetkan, guru perlu melakukan analisis dan refleksi mengapa hal ini terjadi dan
apa tindaka yang
harus guru lakukan
untuk meningkatkan efektivitas
pengajaran.
4. Fungsi Umpan
balik, hasil penilaian harus
dianalisis oleh guru
sebagai bahan umpan balikbagi siswa
dan guru itu sendiri. Umpan balik hasil penilaian sangat bermafaat
bagi siswa agar
siswa mengetahui kelemahan
yang dialaminya dalam mecapai kemampuan yang diharapakan, dan siswa
diminta melakukan latihan dan
atau pengayaan yang
dianggap perlu baik
sebagai tugas individu ataupun
kelompok. Analisis hasil
peilaiam juga berguna
bagi guru untuk melihat hal-hal apa yang perlu diperhatikan secara
serius dalam proses belajar mengajar. misalnya, analisis terhadap kesalahan
yang umum dilakukan siswa dalam
memahami konsep tetentu
mejadi umpan balik
dari guru dan melaukan
perbaikan dalam proses
belajar megajar berikutnya.
D. Prinsip
Asesmen
Dalam
merancang suatu penilaian pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Prinsip
integral dan komprehensif yakni penilaian dilakukan secara utuh dan menyeluruh terhadap semua aspek pembelajaran, baik
pengetahuan, keterampilan, maupun
sikap dan nilai.
2. Prinsip kesinambungan
yakni penilaian dilakukan
secara berencana, terus-menerus
dan bertahap untuk
memperoleh gambaran tentang
perkembangan tingkah laku peserta
didik sebagai hasil
dari kegiatan
belajar. Untuk memenuhi
prinsip ini, kegiatan
penilaian harus sudah
direncanakan bersamaan dengan kegiatan penyusunan program semester dan
dilaksanakan sesuai dengan program yang
telah disusun.
3. Prinsip objektif yakni penilaian
dilakukan dengan menggunakan
alat ukur yang handal dan dilaksanakan secara objektif,
sehingga dapat menggambarkan kemampuan yang diukur.
4. Kemampuan
membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik,
sehingga penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk
kenaikan kelas.
5. Penilaian dilakukan
dengan mengacu pada
indikator-indikator dari masing- masing kompetensi dasar dari setiap
mata pelajaran.
6. Penilaian
pembelajaran tematik mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar
peserta didik. Penilaian
proses belajar adalah
upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian
hasil belajar adalah
proses pemberian nilai
terhadap hasil-hasil belajar yang
dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut
pada hakekatnya merupakan
kompetensi-kompetensi yang
mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Kompetensi tersebut dapat dikenali
melalui sejumlah indikatornya yang dapat diukur dan diamati.
7. Hasil karya
atau hasil kerja
peserta didik dapat
digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan.
Pada
asesmen berbasis kelas, suatu penilaian harus memperhatikan beberapa
prinsip-prinsip diantaranya:
a. Mengacu pada
pencapaian kompetensi (Competency Referenced), penilaian kelas
perlu disusun dan
dirancang untuk mengukur
apakah siswa telah menguasai
kemampuan sesuai dengan
target yang ditetapkan
dalam kurikulum. Materi yang
dicakup dalam penilaian
kelas harus terkait
secara langsung dengan indikator pencapaian kemampuan tersebut. Ruang
lingkup materi penilaian disesuaikan
dengan tahapan materi
yang telah diajarkan serta pengalaman
belajar siswa yang
diberikan. Materi penugasan
atau ulangan harus betul-betul merefleksiksan setiap
kemampuan yang ditargetkan
untuk dikuasai siswa. Hanya materi yang secara esensial terkait langsung dengan
kemampuan yang perlu
dicakup dalam penilaian
di kelas.
b. Berkelanjutan (Continous),
penilaian yang dilakukan
di kelas oleh
guru harus merupakan proses
yang berkelanjutan dalam
rangkaian rencana mengajar guru
selama satu semester dan tahun ajaran. Rangkaian aktivitas penilaian kelas
yang dilakukan guru
melalui pemberian tugas,
pekerjaan rumah (PR), ulangan harian, ulangan tengah dan akhir semester,
serta akhir tahun ajaran merupakan proses yang berkesinambuangan dan
berkelanjutan selama satu tahun ajaran.
c. Didaktis, alat
yang akan digunakan
untuk penilaian kelas
berupa tes maupun non-tes harus dirancang baik
isi, format, maupun tata letak (layout)
dan tampilannya agar
siswa menyenangi dan
menikmati kegiatan penilaian. Perancangan bahan
penilaian yang kreatif
dan menarik dapat
mendorong siswa untuk menyelesaikan
tugas penilaian, baik
yang bersifat individual maupun kelompok dengan penuh
antusias dan menyenangkan.
d. Menggali Informasi, penilaian kelas yang
baik harus dapat
memberikan informasi yang cukup bagi guru untuk mengambil keputusan dan
umpan balik. Pemilihan metode, teknik,
dan alat peniaian
yang tepat sangat
menentukan jenis informasi yang ingin digali dari proses penilaian kelas
e. Melihat yang
benar dan yang
salah, Dalam melaksanakan
penilaian, guru hendaknya melakukan
analisis teadap hasil
penilaian dan kerja
siswa secara seksama untuk melihat adanya kesalahan yang secara umum terjadi
pada siswa dan sekaligus melihat hal-hal positif yang dilakukan siswa. Hal-hal positif
tersebut dapat berupa, misalnya, jawaban benar yang diberikan siswa diluar perkiraan
atau cakupan yang
ada pada guru.
Siswa yang memiliki kelebihan kecerdasan,
pengetahuan, dan pengalaman
sangat mungkin memberikan jawaban
dan penyelesaian masalah
yang tidak tersedia
pada bahan yang diajarkan di kelas. Demikian juga, melihat pola
kesalahan yang umum dilakukan siswa dalam menjawab dan menyelesaikan masalah
untuk materi serta kompetesi
tetentu sangat membantu
guru dalam melakukan perbaikan dan
penyesuaian dan penyelesaian
program belajar mengajar. analisis terhadap
kesalahan jawaban dan
penyelesaian masalah yang diberikan siswa
sangat berguna untuk
menghindari terjadinya miskonsepsi dan ketidakjelasan dalam
proses pembelajaran. Guru
harus hendaknya memberikan penekanan
terhadap kesalahan-kesalahan yang
bersifat umum tersebut.